Pelatihan Penyusunan Kegiatan Kokurikuler Fisika Berbasis Kearifan Lokal bagi Guru SMA
Published online: 8 Jun 2026
Abstract
Kegiatan kokurikuler merupakan salah satu bagian penting dalam implementasi pembelajaran yang mendukung penguatan kompetensi peserta didik secara kontekstual dan aplikatif. Namun, pelaksanaan kegiatan kokurikuler fisika di sekolah masih cenderung terbatas pada aktivitas akademik konvensional dan belum banyak mengintegrasikan potensi kearifan lokal sebagai sumber belajar. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru fisika dalam menyusun kegiatan kokurikuler fisika berbasis kearifan lokal di SMA. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk workshop yang melibatkan 7 guru fisika SMA sebagai peserta. Pelaksanaan workshop meliputi pemberian materi, diskusi, penyusunan rancangan kegiatan kokurikuler, validasi rancangan, dan evaluasi respon peserta terhadap kegiatan yang dikembangkan. Data kegiatan diperoleh melalui lembar validasi dan angket respon praktisi yang diisi oleh peserta workshop. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa guru fisika mampu menyusun rancangan aktivitas kokurikuler fisika berbasis kearifan lokal yang relevan dengan karakteristik lingkungan sekolah dan budaya masyarakat sekitar. Berdasarkan hasil validasi, rancangan kegiatan kokurikuler yang dikembangkan berada pada kategori baik dan layak untuk diterapkan di sekolah. Selain itu, respon praktisi menunjukkan bahwa kegiatan kokurikuler berbasis kearifan lokal dinilai mampu meningkatkan keterlibatan peserta didik, memperkuat pembelajaran kontekstual, serta mendukung pelestarian budaya lokal melalui pembelajaran fisika. Workshop ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan kompetensi guru dalam mengembangkan aktivitas pembelajaran fisika yang lebih inovatif dan kontekstual. Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa integrasi kearifan lokal dalam aktivitas kokurikuler dapat menjadi alternatif pengembangan pembelajaran fisika yang lebih bermakna bagi peserta didik. Oleh karena itu, pelaksanaan workshop serupa perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk mendukung implementasi pembelajaran berbasis budaya lokal di sekolah
References
[1] OECD, PISA 2018 Results (Volume I): What Students Know and Can Do. Paris, France: OECD Publishing, 2019. doi: 10.1787/5f07c754-en.
[2] Partnership for 21st Century Skills, Framework for 21st Century Learning. Washington, DC, USA: P21, 2015.
[3] Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta, Indonesia: Kemendikbud, 2016.
[4] A. Haryadi and H. Pujiastuti, “STEM learning based on local culture to improve students’ mathematical literacy,” Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, vol. 9, no. 2, pp. 224–233, Jun. 2020, doi: 10.15294/jpii.v9i2.23828.
[5] W. Sumarni, “Ethnoscience in science learning: A review of research,” Unnes Science Education Journal, vol. 7, no. 1, pp. 16–21, 2018, doi: 10.15294/usej.v7i1.21380.
[6] P. Parmin, P. Nuangchalerm, and R. A. Z. El Islami, “Exploring indigenous knowledge of Java North Coast Community (Pantura) using science integrated learning (SIL) model for science content development,” Journal of Physics: Conference Series, vol. 1567, no. 2, p. 022068, Jun. 2020, doi: 10.1088/1742-6596/1567/2/022068.
[7] R. Usmeldi and R. Amini, “The effect of integrated STEM learning based on local wisdom on learning outcomes,” Journal of Physics: Conference Series, vol. 1481, no. 1, p. 012099, Mar. 2020, doi: 10.1088/1742-6596/1481/1/012099.
[8] N. Rohmantika and E. S. Kurniawan, “Using Ethno-STEM based teaching materials to increase students’ creativity in learning physics,” Jurnal Geliga Sains, vol. 9, no. 2, pp. 129–138, 2021, doi: 10.31258/jgs.9.2.129-138.
[9] P. Parmin and E. Fibriana, “Prospective teachers’ understanding of Ethno-STEM in science learning,” Journal of Turkish Science Education, vol. 16, no. 3, pp. 356–367, Sep. 2019, doi: 10.36681/tused.2020.28.
[10] F. S. A. Nugraheni, A. Widiyatmoko, and S. Sulhadi, “Pelatihan pembuatan perangkat pembelajaran berbasis local wisdom STEM bagi guru,” Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia, vol. 2, no. 4, pp. 357–365, 2022, doi: 10.52436/1.jpmi.570.
[11] J. A. Banks, An Introduction to Multicultural Education, 6th ed. Boston, MA, USA: Pearson, 2015.
[12] E. B. Johnson, Contextual Teaching and Learning: What It Is and Why It’s Here to Stay. Thousand Oaks, CA, USA: Corwin Press, 2002.
[13] B. Berns and P. M. Erickson, “Contextual Teaching and Learning: Preparing Students for the New Economy,” The Highlight Zone: Research @ Work, no. 5, pp. 1–8, 2001.
[14] S. Keraf, Etika Lingkungan Hidup. Jakarta, Indonesia: Kompas, 2010.
[15] H. A. R. Tilaar, Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia. Bandung, Indonesia: Remaja Rosdakarya, 2012.
[16] M. Fullan, The New Meaning of Educational Change, 4th ed. New York, NY, USA: Teachers College Press, 2007.
[17] D. Kolb, Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development. New Jersey, USA: Prentice Hall, 1984.
[18] Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Jakarta, Indonesia: Kemendikbudristek, 2022.
[19] R. M. Gagné, W. W. Wager, K. Golas, and J. Keller, Principles of Instructional Design, 5th ed. Belmont, CA, USA: Wadsworth/Thomson Learning, 2005.
License
Copyright (c) 2026 The Author(s). Published by Borneo Novelty Publishing

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Permission is granted subject to the terms of the License under which the work was published. Permission will be required if your reuse is not covered by the terms of the License.